Bab 61: Mizuno Maki Menerima Pengakuan Cinta
【Maeshima Rika: Shindai-kun, kamu sudah melihat pesannya, kan?】
Ponselnya tiba-tiba berdering, menampilkan sebuah pesan masuk.
Shindai Hakufum tertegun sejenak setelah melihatnya.
Bagaimana gadis itu tahu kalau dirinya sudah membaca pesan tersebut?
Ia langsung mendongak dan mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Seketika itu juga, ia melihat Maeshima Rika sedang menjulurkan kepala mungilnya dari samping pintu Kelas A, bibirnya mengerucut, menatapnya dengan ekspresi agak kesal.
Shindai Hakufum pura-pura tidak melihatnya, langsung menyambar tas sekolahnya dan bersiap untuk pergi.
Ia mengabaikan Maeshima Rika yang berada di ambang pintu, melangkah ke koridor, dan berjalan menuju ke arah tangga.
Namun, Maeshima Rika justru langsung mengikutinya di samping sambil bergumam kesal.
"Shindai-kun jelas-jelas sudah melihat pesannya, kenapa tidak membalasku?"
"Aku tidak melihatnya," ucap Shindai Hakufum tanpa menoleh.
"Beneran?"
"Bohong, aku tadi melihatnya, hanya saja merasa tidak perlu dibalas."
Mendengar itu, Maeshima Rika sama sekali tidak terlihat sedih, ia justru tersenyum manis. "Baguslah kalau begitu, aku tahu Shindai-kun tidak akan pernah berbohong padaku."
"???"
Wajah Shindai Hakufum penuh dengan tanda tanya.
Kalimat tadi diucapkan agar kau tahu bahwa aku sama sekali tidak berniat untuk berpacaran, sekaligus memperlihatkan sikapku kepadamu.
Kenapa kau malah senang begitu, sih?
Maeshima Rika tiba-tiba berjalan ke hadapan Shindai Hakufum. Sambil berjalan mundur, ia menatap mata pemuda itu dan tersenyum, "Shindai-kun, aku sama sekali tidak punya niat macam-macam, kok."
"Kau tidak perlu memasang sikap waspada seperti itu terhadapku."
"Aku akan menunggumu sampai saatnya kau siap untuk berpacaran."
"Jadi, untuk sekarang, mari kita akur saja sebagai teman."
"Saling berkirim pesan dan berangkat serta pulang sekolah bersama sebagai teman, bukankah itu hal yang wajar?"
Karena takut Shindai Hakufum menolak, Maeshima Rika bahkan meralat ucapannya, "Hm-hm, atau kalau Shindai-kun tidak suka kita berteman, kita jadi bro saja juga boleh!"
"Bahkan ada opsi 'bro' sekarang?" Shindai Hakufum dibuat tertawa sekaligus menangis. "Niatmu itu benar-benar transparan seperti biasa."
"Tentu saja, niatku memang setransparan itu!" Senyum Maeshima Rika merekah bagaikan bunga, begitu cemerlang dan memukau. "Aku akan 'menaklukkanmu' pelan-pelan!"
"Jika suatu hari nanti kau mulai jatuh hati padaku, pastikan untuk langsung mengatakannya padaku, ya!"
"Aku tidak akan ragu untuk menjadi kekasihmu!"
Shindai Hakufum tersenyum masam. "Hari itu tidak akan pernah tiba."
"Akan tiba!"
"Tidak akan!"
"Akanrr!!!" Maeshima Rika mengerucutkan bibirnya, sepasang mata indahnya memancarkan tekad yang begitu kuat.
Namun, tepat saat ia mengucapkan kata-kata itu, karena berjalan dengan posisi mundur, ia hampir saja menabrak orang di belakangnya.
Tepat saat ia hampir menabrak seseorang, mau tidak mau Shindai Hakufum yang merasa pasrah langsung mengulurkan tangan dan menariknya.
Sudut bibir Maeshima Rika sedikit terangkat. Memanfaatkan momentum tarikan itu, ia langsung menubruk ke dalam pelukan Shindai Hakufum, bahkan sempat-sempatnya menghirup aroma tubuh pemuda itu dalam-dalam sebelum terkikik geli.
"Bro, badanmu wangi banget!"
Setelah meraup keuntungan kecil itu, ia langsung melangkah mundur dengan cepat.
Ia khawatir Shindai Hakufum akan merasa risih jika mereka melakukan kontak fisik terlalu berlebihan.
Mendengar kalimat itu, Shindai Hakufum hampir kehilangan pertahanannya dan melontarkan protes, "Hei, aku menarikmu tadi karena kau hampir menabrak orang."
"Jangan malah sengaja bersandar seperti itu."
Maeshima Rika menyunggingkan senyum kemenangan, lalu beralasan, "Mau bagaimana lagi, Rika kan hanya gadis lemah, sementara tenaga Shindai-kun begitu besar. Begitu ditarik, aku pasti langsung terhuyung jatuh ke pelukanmu."
Shindai Hakufum mengerutkan kening, samar-samar merasakan ada sesuatu yang janggal. "Tunggu dulu, jangan-jangan aksi berjalan mundur tadi dan hampir menabrak orang itu juga bagian dari rencanamu?"
"Betul. Bagaimana, hatimu berdegup kencang tidak?" Maeshima Rika mengakuinya tanpa merasa canggung sedikit pun.
Ia sudah menduga Shindai Hakufum pasti akan menariknya ketika dirinya hampir menabrak seseorang atau mengalami insiden serupa.
Shindai Hakufum benar-benar dibuat geli oleh tingkahnya. Sambil tersenyum menggelengkan kepala, ia menjawab, "Tidak."
"Hmph." Maeshima Rika sangat senang melihat Shindai Hakufum tersenyum. Ia tahu dirinya masih memiliki peluang besar.
Dengan riang gembira, ia mencari topik pembicaraan lain. "Shindai-kun, jadi sekarang kita sedang dalam perjalanan menuju tempat kerja paruh waktu, ya?"
Shindai Hakufum mengangguk kecil. "Hm."
"Baguslah kalau begitu, kalau begitu kita keluar gerbang sekolah bersama-sama ya! Tapi, kuperingatkan dulu, hari ini aku tidak akan ikut menemanimu ke area pertokoan, lho~"
"......"
Maeshima Rika dengan gembira berjalan menuruni tangga bersama Shindai Hakufum.
Ia terus-menerus mencari bahan obrolan di sepanjang jalan.
Meskipun respons yang didapatnya hanyalah kalimat-kalimat singkat,
asal bisa mengobrol dan berjalan berdampingan dengannya saja sudah membuat gadis itu merasa sangat puas.
Tak lama kemudian.
Mereka berdua tiba di area pelekasan sepatu.
Karena rak sepatu mereka terletak di lokasi yang berbeda,
Maeshima Rika dengan gesit mengganti sepatunya terlebih dahulu.
Begitu tiba di dekat rak sepatu Shindai Hakufum, ia seketika melihat pemuda itu sedang memasukkan beberapa pucuk surat cinta dari dalam rak ke dalam tas sekolahnya.
Maeshima Rika tertegun sejenak saat melihat tumpukan surat cinta di dalam tas itu.
Ia memang sudah menduga kalau saingannya pasti tidak sedikit.
Namun, ia sama sekali tidak menyangka jumlahnya akan sebanyak ini.
Melihat Shindai Hakufum yang terus memasukkan surat-surat cinta itu ke dalam tas, wajah cantik Maeshima Rika langsung menggembung karena kesal. Dengan nada cemburu, ia berseru,
"Shindai-kun, aku marah!"
"Kenapa bisa ada begitu banyak siswi yang mengirimimu surat cinta sih?"
"Padahal kau sudah bilang tidak ingin berpacaran, tapi mereka masih saja mengirim surat dan terus mengganggumu. Aku benar-benar tidak paham."
Shindai Hakufum terdiam sejenak. Ia menatap gadis itu dengan ekspresi serba salah, sangat ingin melontarkan komentar sarkas.
Namun, setelah dipikir-pikir lagi, ia mengurungkan niatnya.
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Usai mengganti sepatu, ia langsung berjalan menuju gerbang utama sekolah.
Sedikit pun tidak ada niat di benaknya untuk menunggu Maeshima Rika.
Maeshima Rika buru-buru berlari kecil menyusul, lalu berjalan berdampingan di sisi Shindai Hakufum.
Namun, saat mereka tiba di dekat gerbang,
Shindai Hakufum mendadak melihat Mizuno Maki sedang dicegat oleh seorang siswa laki-laki.
Terlihat siswa laki-laki tersebut membungkukkan badan, lalu mengulurkan tangan kanan sambil berteriak lantang:
"Mizuno-san, hatiku langsung berdegup kencang sejak pertama kali melihatmu!"
"Aku sangat yakin ini adalah cinta pada pandangan pertama!"
"Aku benar-benar menyukaimu, kumohon jadilah pacarku!"
Para siswa yang hendak meninggalkan lingkungan sekolah kontan berhenti dan berkumpul di dekat gerbang dengan penuh antusias untuk menonton adegan tersebut.
Meskipun satpam sekolah menyadari situasi itu, ia tidak langsung maju untuk melerai.
Melainkan memilih menunggu hingga pernyataan cinta itu selesai.
Pada saat itu.
Mizuno Maki tetap memasang ekspresi dingin seperti biasa. Alisnya sedikit mengerut, sementara ia menggelengkan kepala seraya meminta maaf,
"Maaf, aku tidak menyukaimu, dan aku juga tidak punya niat untuk berpacaran."
Usai melontarkan kalimat tersebut,
ia berbalik dan langsung meninggalkan area gerbang tanpa menoleh sedikit pun.
Pernyataan yang singkat dan tegas itu membuat sang siswa laki-laki terpukul berat. Sambil berurai air mata, ia berlari kencang meninggalkan tempat kejadian.
Melihat pemandangan itu, Shindai Hakufum dalam hati tidak kuasa mengagumi jiwa khas siswa SMA.
Menangis di lingkungan sekolah, berlari ala drama Jepang, sungguh masa muda yang membara!
Maeshima Rika menyipitkan mata menatap punggung Mizuno Maki yang semakin menjauh. Ia merasakan secercah ancaman yang tidak biasa.
Ia ingat gadis itu adalah siswi dari kelas yang sama dengan Shindai Hakufum.
Bahkan tempat duduknya berada tepat di depan pemuda itu.
Penampilan gadis itu sama sekali tidak kalah darinya.
Meskipun Shindai Hakufum mengatakan tidak akan berpacaran untuk saat ini,
namun pepatah bilang, cinta datang karena terbiasa, dan siapa yang dekat lebih dulu akan lebih beruntung.
Terlebih lagi mereka berada di kelas yang sama.
Jika posisinya diserobot oleh gadis-gadis yang syarat pesonanya tidak kalah darinya ini, gawat namanya!
Hm... ia harus lebih waspada ke depannya!