Bab 43: Telepon antara Kakak dan Adik Perempuan (Telah Direvisi)
Halaman (1/3)
Di ruang interogasi itu hanya tersisa Lin Haifeng dan Tang Xiaobei.
Lin Haifeng menahan gejolak di dalam hatinya lalu berkata, “Sekarang tidak ada orang lain di sini. Kamera pengawas juga tidak menyala. Sekarang kau bisa mengatakan penyakitku, bukan?”
“Kau tahu Lei Ming?”
“Tahu. Aku bahkan pernah makan bersama dengannya dan kami cukup akrab. Jadi jangan harap bisa menipuku dengan membawa-bawa namanya.”
Tang Xiaobei merasa jauh lebih tenang dan tersenyum. “Kau tidak ingin meneleponnya untuk memastikan?”
Lin Haifeng bimbang sejenak. “Baiklah. Kalau kau berani membohongiku, aku pasti tidak akan melepaskanmu!”
Setelah berkata demikian, ia keluar untuk menelepon.
Beberapa saat kemudian, Lin Haifeng kembali ke ruang interogasi. Ekspresinya tampak luar biasa, seolah hampir tak mampu mengendalikan emosinya. Dengan tak sabar ia bertanya, “Kau benar-benar Tang Xiaobei?”
“Seratus persen asli. Untuk urusan seperti ini, Lei Ming seharusnya tidak akan mengarang, apalagi menyangkut privasinya.”
“Kalau begitu, bagaimana kau tahu aku menderita penyakit itu?”
Bagaimana aku tahu?
Aku punya kemampuan melihat menembus segalanya!
Tang Xiaobei tersenyum. “Pengobatan tradisional sangat mendalam. Ada metode mengamati, mencium, menanyai, dan memeriksa denyut nadi. Kalau pengamatanku tidak keliru, selama beberapa tahun terakhir kau terus diganggu penyakit ini. Bahkan, sudah lama kau tidak menyentuh perempuan.”
Wajah Lin Haifeng memerah, dipenuhi rasa tertekan.
Karena masalahnya sendiri, ia dan istrinya telah hidup terpisah selama lebih dari setahun. Sang istri memang belum mengajukan perceraian, tetapi itu hanya soal waktu. Tidak mungkin seseorang mau menghabiskan seumur hidup mendampingi suami yang tak mampu memenuhi kewajibannya sebagai lelaki.
Diam-diam, ia juga telah mendatangi banyak rumah sakit, tetapi semuanya tidak berguna. Kesimpulan para dokter pada akhirnya hanya satu: ia harus menjalani perawatan secara perlahan. Mereka meresepkan begitu banyak obat penguat, tetapi hasilnya nyaris tidak terlihat.
Bagi seorang lelaki, terlebih lelaki muda yang cemerlang dan belum memiliki keturunan seperti dirinya, penyakit semacam ini sungguh mematikan. Penyakit itu dapat membuat seseorang putus asa secara fisik dan runtuh secara mental.
“Kau bisa menyembuhkan penyakitku?”
Lin Haifeng sudah mempertaruhkan segalanya. Dalam keadaan seperti ini, menjaga harga diri tidak ada gunanya. Yang terpenting adalah menyembuhkan penyakitnya.
“Tentu saja. Sebenarnya, penyakitmu jauh lebih ringan daripada penyakit Lei Ming. Aku hanya perlu melakukan akupunktur sekali. Bahkan kau tidak perlu minum obat. Setelah itu kau akan langsung sembuh.”
Tang Xiaobei menjawab dengan penuh keyakinan.
“Kalau begitu, tabib ajaib, kumohon bantulah aku. Kau tidak tahu betapa tersiksanya aku karena penyakit ini. Rasanya hidup lebih buruk daripada mati.”
Lin Haifeng hampir menangis.
Namun Tang Xiaobei hanya tersenyum tanpa menjawab.
Menyelamatkannya?
Atas dasar apa?
Lin Haifeng pun menyadari maksudnya. Ia mengernyitkan dahi dan berkata, “Tabib Tang, aku sungguh minta maaf. Kali ini aku datang menggeledah hotel karena menerima laporan seseorang. Sekarang bukti-buktinya sudah sangat kuat. Aku mengerti maksudmu, tetapi aku benar-benar tidak bisa membebaskanmu. Kalau kulakukan, berarti aku melanggar hukum. Namun, bila kau mau bekerja sama, aku akan berusaha sekuat tenaga mengupayakan keringanan hukuman untukmu. Aku masih memiliki sedikit koneksi di lingkungan penegak hukum.”
“Hah?”
Tang Xiaobei tertegun.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pada saat seperti ini Lin Haifeng masih mampu berpegang teguh pada prinsip.
Tang Xiaobei tidak marah sedikit pun. Sebaliknya, rasa hormatnya kepada Lin Haifeng justru bertambah.
Berada di posisi seperti itu namun tetap memiliki kesadaran politik semacam ini merupakan berkah bagi rakyat dan keberuntungan bagi masyarakat.
“Aku tidak membutuhkanmu untuk membebaskanku. Di sini pun aku masih bisa mengobati penyakitmu, tetapi aku punya satu syarat.”
Halaman (1/3)
“Bicaralah. Selama bukan sesuatu yang melanggar prinsip dan batas moral, aku pasti menyetujuinya.”
Lin Haifeng berbicara dengan wajah serius.
“Aku ingin kau membersihkan namaku. Aku tidak punya alasan untuk membohongimu. Aku memang dijebak.”
Tang Xiaobei menghela napas.
Lin Haifeng menatap matanya. “Kau tidak berbohong kepadaku?”
“Sesungguhnya, kalau kau menyelidikinya, pasti akan menemukan kejanggalan. Aku juga bisa memberimu beberapa petunjuk.”
“Baiklah, kali ini aku akan mempercayaimu. Katakan, petunjuk apa yang kau punya?”
Tang Xiaobei berkata, “Pertama-tama harus kujelaskan, orang yang menjebakku mungkin berasal dari sistem kalian. Bahkan, sebagian besar kemungkinan memiliki latar belakang yang sangat kuat. Apa kau takut menyinggung mereka?”
“Jangan khawatir. Selama kau benar-benar dijebak, aku pasti akan mengembalikan nama baikmu. Siapa pun orangnya, tidak boleh memengaruhi proses penyelidikan yang normal. Itu prinsipku. Aku berani menjaminnya atas nama integritas sebagai anggota partai.”
Lin Haifeng memasang wajah tegas.
Tang Xiaobao tersenyum. “Baiklah, aku percaya kau adalah polisi yang baik. Orang yang mungkin berada di balik jebakanku adalah Zhao Shuai, kepala Ruang Pengawasan Ketiga Komisi Disiplin Provinsi!”
Wajah Lin Haifeng berubah drastis. Ia berseru kaget, “Siapa katamu? Kepala Zhao?”
“Kenapa? Kau takut?”
Tang Xiaobei bertanya dengan tenang.
Lin Haifeng tersenyum getir. “Takut? Sebenarnya tidak sampai begitu. Namun, kau tahu siapa ayah Zhao Shuai?”
“Mana mungkin aku tahu?”
“Ayahnya adalah wakil kepala tetap kepolisian provinsi kita. Bisa dibilang, ia atasanku langsung. Jadi, kau yakin tidak asal bicara? Kau harus tahu, konsekuensi memfitnah pejabat negara sangat serius. Kalau keadaan memburuk, aku bisa ikut celaka gara-gara kau!”
Lin Haifeng menghela napas, wajahnya tampak sangat berat.
“Tenang saja. Aku tidak menuduh tanpa dasar. Memang belum ada bukti yang menunjukkan bahwa dialah yang menjebakku, tetapi akhir-akhir ini hanya dialah yang pernah berselisih denganku. Jadi, anggap saja aku memberimu arah penyelidikan. Selain itu, selama kau mau menyelidiki pihak hotel, kau pasti bisa menemukan jejak. Bagaimana kalau kau mulai dari sana? Oh ya, ponselku di mana? Bisa kau kembalikan?”
“Tidak bisa. Sebelum kasus ini diselidiki sampai tuntas, kau tetap harus tinggal di sini. Aku akan segera mengutus orang untuk menyelidiki dan berusaha menemukan bukti bahwa kau telah dijebak secepat mungkin.”
Lin Haifeng berkata dengan nada meminta maaf.
Ia bahkan tidak lagi menyinggung soal pengobatan.
Sebaliknya, Tang Xiaobei sangat memahaminya dan berkata sambil tersenyum, “Tenang saja. Entah kau berhasil menemukan bukti atau tidak, penyakitmu akan tetap kusembuhkan.”
“Benarkah?”
Walaupun tidak membicarakannya, Lin Haifeng sebenarnya sangat cemas. Mendengar ucapan Tang Xiaobei, sorot matanya menjadi rumit. “Aku mulai sedikit mempercayai kata-katamu.”
“Percayalah kepadaku, itu keputusan yang tepat. Kau polisi yang baik. Pergilah menyelidiki kasus ini dengan tenang. Sekalipun langit runtuh, kujamin kau tidak akan tertimpa masalah. Aku tidak akan memintamu melanggar prosedur, tetapi aku juga punya satu permintaan. Kuharap kau bisa menyetujuinya.”
“Katakan.”
“Bawalah ponselku bersamamu. Besok mungkin ada seseorang yang menelepon. Kalau peneleponnya perempuan, sampaikan keadaanku apa adanya kepada mereka, termasuk soal Zhao Shuai yang baru saja kuceritakan. Bahkan, kau boleh membocorkan petunjuk mengenai orang di baliknya.”
Lin Haifeng kembali bimbang sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. “Baiklah. Aku pasti akan menyampaikannya dengan jujur.”
Setelah berkata demikian, ia membuka borgol Tang Xiaobei dan membawanya ke ruangan lain, lalu memerintahkan orang-orang untuk melayaninya dengan baik.
Tang Xiaobei bisa dibilang telah mendapatkan kembali separuh kebebasannya. Ada rokok dan teh—apa lagi yang ia butuhkan?
Halaman (2/3)
Ia yakin, besok keadaan pasti akan berbalik.
Lin Haifeng membawa beberapa orang kembali ke hotel malam itu juga. Mereka memeriksa kamera pengawas di sekitar lokasi dan akhirnya menemukan beberapa petunjuk.
Setelah sibuk semalaman, ia baru pulang menjelang pukul lima pagi.
Ia sempat memejamkan mata sejenak ketika ponselnya berdering.
Dalam keadaan setengah sadar, ia meraih ponsel di sisi ranjang lalu mengangkatnya.
“Halo, siapa?”
Lin Haifeng bertanya asal.
Di seberang sana terdengar keheningan selama beberapa detik, sebelum suara perempuan tiba-tiba terdengar, “Siapa kau? Di mana Tang Xiaobei?”
Rasa kantuk Lin Haifeng lenyap seketika. Ia langsung duduk dan baru menyadari bahwa ponsel yang dipegangnya adalah milik Tang Xiaobei. Terkenang pesan Tang Xiaobei semalam, ia buru-buru bertanya, “Siapa kau?”
“Aku kakaknya. Mengapa ponselnya ada padamu? Dan kau sendiri siapa?”
Lawan bicaranya terdengar sangat berwibawa.
Lin Haifeng lalu menjelaskan seluruh rangkaian kejadian dari awal hingga akhir.
“Jadi kau dari Satuan Antinarkotika? Jangan sekali-kali menyulitkannya. Kalau tidak, kau pasti akan menyesal!”
Klik.
Telepon itu langsung terputus.
Lin Haifeng agak kebingungan. Temperamennya sungguh keras. Jadi, itu kakak perempuan Tang Xiaobei?
Ia melirik jam. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Celaka!
Ia tidur terlalu lelap. Ia harus segera pergi ke markas untuk menemui Tang Xiaobei.
Baru saja Lin Haifeng bangun dari tempat tidur, ponsel itu kembali berdering.
Masih ponsel Tang Xiaobei.
Begitu diangkat, terdengar suara perempuan dari seberang, “Kak, pukul berapa kau tiba di Jinling? Aku sudah bersiap pergi ke bandara untuk menjemputmu!”
Tak perlu ditanya lagi, kali ini Qin Ling’er yang menelepon.
“Oh, kakakmu mungkin tidak bisa datang ke Jinling hari ini. Dia sedang berada di Satuan Antinarkotika Provinsi Xichuan kami…”
“Apa? Jangan berani menyulitkannya! Dia pasti dijebak! Kuberi tahu kalian, kalau kalian berani memukulnya, aku pasti akan membuat kalian menyesal. Huh!”
Klik!
Telepon itu kembali terputus.
Lin Haifeng merasa malu sekaligus kikuk.
Barusan kakaknya, sekarang adiknya?
Dan temperamen mereka berdua tampaknya sama-sama tidak mudah ditangani.
Halaman (3/3)