Bab 43: Terlambat
Halaman (1/3)
Setelah mengantar Lu Fei pergi, Zhou Yuejin masuk ke halaman pabrik pengolahan. Begitu teringat pada Su Yang, amarahnya semakin berkobar.
Yang lebih membuatnya murka, Si Yao, sebagai putri Si Xuezhong, ternyata ikut menipunya bersama Su Yang. Urusan dagang hari ini nyaris saja mereka berdua gagalkan!
Yu Liangping berjalan di samping Zhou Yuejin sambil mengusap keringat dingin.
“Direktur, untung Anda menanganinya dengan tepat. Kalau tidak, transaksi ini pasti gagal!”
Zhou Yuejin mendengus geram. “Benda macam apa itu? Berani-beraninya menipu Zhou Yuejin. Memangnya selama bertahun-tahun aku cuma keluyuran tanpa pengalaman?”
“Besi tua tiga ribu yuan per ton! Dasar pembohong, omong kosongnya tidak ada habisnya!”
“Kalau reaksiku tidak cepat, bulan ini kita bahkan tidak akan mampu membayar gaji para pekerja!”
“Sekarang semuanya baik-baik saja. Kita malah mendapat untung satu juta empat ratus ribu yuan!”
Zhou Yuejin baru saja hendak kembali ke kantornya. Namun, baru dua langkah berjalan, telepon di sakunya bergetar.
Ia melirik layar telepon, lalu tersenyum. Yang menelepon adalah kawan lamanya, seorang pengusaha daur ulang barang bekas seperti dirinya. Skalanya memang tidak sebesar miliknya, tetapi di kawasan utara kota, orang itu cukup terkenal.
Kebetulan, kawan lamanya itu juga baru menjual seluruh besi tuanya kepada Pabrik Baja Jiangcheng. Dari sikap Pabrik Baja Jiangcheng, tampaknya mereka masih belum mendapatkan pasokan yang cukup.
Ia pun bermaksud menyampaikan kabar itu kepada kawannya, sekaligus membalas budi.
Telepon tersambung. Dari seberang terdengar suara lantang, “Kak Zhou, apa kau masih punya sebatch besi tua yang belum terjual?”
Zhou Yuejin tersenyum.
“Kalau kau bertanya satu jam yang lalu, memang belum terjual. Tapi sekarang, sudah ludes semuanya!”
Nada suara kawannya langsung berubah penuh keterkejutan. “Kau menjualnya kepada siapa?”
“Tentu saja kepada Pabrik Baja Jiangcheng. Memangnya kau kira aku akan membiarkan tengkulak membelinya?”
Kawannya mengembuskan napas lega.
“Dijual kepada Pabrik Baja Jiangcheng?”
“Kalau begitu bagus, bagus sekali! Aku meneleponmu memang hendak membicarakan hal itu!”
“Pabrik Baja Jiangcheng memenangkan sebuah proyek besar. Mereka sedang membeli besi di seluruh provinsi. Kemarin semua daerah menaikkan harga, dan harga besi tua melonjak menjadi tiga ribu yuan per ton!”
“Hari ini aku menjual seluruh besi tuaku kepada Pabrik Baja Jiangcheng.”
“Tiba-tiba aku teringat bahwa kau masih punya satu batch besi tua, jadi aku buru-buru meneleponmu. Tak kusangka, ternyata kau sudah menjualnya!”
“Pantas saja kau Kak Zhou. Informasimu memang selalu cepat!”
Zhou Yuejin tertegun. Ia mengusap telinganya, bertanya-tanya apakah dirinya salah dengar.
“Huang Tua, berapa harga besi tua yang kau jual kepada Pabrik Baja Jiangcheng?”
Mendengar pertanyaan balik itu, Huang Tua juga terdiam sejenak.
Halaman (1/3)
“Ya tiga ribu yuan per ton.”
“Bukankah memang segitu harganya?”
“Kenapa? Harga yang kau dapat lebih tinggi?”
“Benar juga, besi tuamu jauh lebih banyak. Tidak seperti punya kami, sedikit-sedikit dan terpencar, jadi tidak bisa dijual dengan harga tinggi!”
“Kali ini kau benar-benar mendapat untung besar. Kalau ada kesempatan, kau harus mentraktir kami makan!”
Kepala Zhou Yuejin berdengung. Ia sama sekali tidak dapat mendengar perkataan Huang Tua di seberang telepon. Pikirannya hanya dipenuhi satu kalimat: besi tua itu dijual seharga tiga ribu yuan per ton.
Bukankah memang segitu harganya?
Tiga ribu yuan per ton?
Ia menepuk pahanya keras-keras, lalu menampar wajahnya sendiri sambil memaki, “Sial!”
Ia benar-benar telah tertipu!
Saat itu, seluruh pikiran Zhou Yuejin dipenuhi kata-kata Su Yang yang mencacinya: menyebutnya pikun, bodoh karena usia, mengatakan bahwa dirinya telah ditipu, dan berulang kali memperingatkan bahwa harga besi tua sudah naik menjadi tiga ribu yuan per ton!
Tubuh Zhou Yuejin gemetar karena marah.
Huang Tua di seberang telepon masih tidak tahu apa yang telah terjadi. “Kak Zhou, kalau nanti ada kesempatan lagi, biarkan besi tua kami ikut dijual bersama persediaan besarmu. Kalau untungnya lebih banyak, paling-paling kubagi sedikit denganmu!”
“Kalau ada kesempatan sekaya ini, jangan lupakan aku!”
Zhou Yuejin hampir menangis. “Untuk apa aku mengingatmu, sialan? Tujuh ribu ton besi tuaku sudah kujual semuanya dengan harga dua ribu dua ratus yuan per ton! Aku bahkan memberi si Lu itu amplop sepuluh ribu yuan!”
“Dasar aku memang bodoh! Bodoh sekali!”
Zhou Yuejin kembali menampar wajah tuanya sendiri.
Kata-kata Su Yang seolah menjadi kutukan yang terus menghantuinya dan kini terbukti benar.
Ia memang menjual besi itu seharga dua ribu dua ratus yuan per ton. Menampar wajah sendiri pun tidak akan mampu mengembalikan kerugian lima juta yuan itu!
Langit telah memberinya kesempatan untuk menjadi kaya mendadak, tetapi ia memilih bertengkar dengan Su Yang!
Pandangan Zhou Yuejin menghitam, dan ia nyaris roboh ke tanah. Yu Liangping yang berada di sampingnya segera menopangnya. Ia juga mendengar Huang Tua berkata bahwa besi tua itu dijual kepada Pabrik Baja Jiangcheng dengan harga tiga ribu yuan per ton.
Siapa yang akan menyangka hal seperti ini?
Yang paling dibenci Zhou Yuejin adalah kenyataan bahwa Su Yang sudah memperingatkannya berkali-kali, mengatakan bahwa harga besi tua telah naik menjadi tiga ribu yuan per ton. Namun, ia terus menganggap Su Yang sebagai penipu!
Air mata tua mengalir di wajah Zhou Yuejin. Ia terus mengusap matanya.
“Aku telah mengecewakan tujuh ribu ton besi tuaku. Aku telah mengecewakan saudara-saudara di pabrik pengolahan. Aku juga telah mengecewakan Su Yang!”
“Cepat! Cepat telepon dia dan minta dia kembali!”
“Selagi barangnya belum diangkut, lihat apakah dia punya cara untuk membantu memperbaiki keadaan!”
Halaman (2/3)
Zhou Yuejin menatap Yu Liangping. Di dalam hatinya yang kelam, kembali menyala secercah harapan.
Yu Liangping merasa tak berdaya. Mereka telah benar-benar menyinggung Su Yang, bahkan langsung menganggapnya penipu dan mengusirnya. Kalaupun Su Yang punya cara, kecil kemungkinan ia mau membantu. Zhou Yuejin benar-benar sudah panik dan mencari pertolongan ke mana saja.
Namun, tidak ada pilihan lain. Yu Liangping hanya dapat menelepon Su Yang.
…
Di luar Pabrik Pengolahan Hengyang.
Su Yang mengisap rokok bermerek Zhonghua yang diambilnya dari kantor Zhou Yuejin, lalu menepuk-nepuk debu di celananya. Dua satpam brengsek itu telah melemparkannya ke dalam parit. Ia hanya tidak ingin memperpanjang masalah. Kalau tidak, dua satpam yang jika seluruh gigi mereka digabungkan pun belum tentu mencapai dua puluh itu tidak akan mampu melawannya bahkan dengan satu tangan!
“Masih sempat merokok?” kata Si Yao.
“Pabrik Baja Jiangcheng membeli besi tua itu dengan harga dua ribu dua ratus yuan per ton. Kita kalah telak!”
Si Yao menghela napas panjang.
Sejak awal ia sudah menduga bahwa uang itu belum tentu bisa mereka dapatkan. Namun, melihat seratus ribu yuan yang dikumpulkan dengan susah payah lenyap begitu saja, hatinya tetap terasa sangat sakit.
Su Yang mengembuskan asap rokok dan tersenyum. “Belum selesai.”
Si Yao tidak ingin menjawab. Dalam keadaan seperti ini, dia masih saja bilang belum selesai? Kontrak sudah ditandatangani. Orang-orang dari bagian pembelian Pabrik Baja Jiangcheng juga sudah pergi. Sebentar lagi besi tua dari gudang akan dikirim ke Pabrik Baja Jiangcheng. Semuanya sudah diputuskan. Bagaimana mungkin ini belum selesai?
Sambil menjepit rokok di bibirnya, Su Yang mengeluarkan telepon dan berkata dengan suara samar, “Tunggu saja. Kurang dari satu jam, si tua bodoh itu pasti meneleponku!”
“Sudah ditipu orang, masih saja membantu si penipu menghitung uang!”
Si Yao tersenyum getir. “Kurasa dia tidak akan meneleponmu. Kali ini, kau yang salah menilai.”
Su Yang hanya tersenyum. Senyumnya bahkan belum menghilang ketika nada dering teleponnya berbunyi.
Si Yao langsung tertegun. Ia merebut telepon itu dan melihat layarnya. Ternyata benar-benar Zhou Yuejin yang menelepon!
“Ini…”
Si Yao sama sekali tidak menyangka bahwa setelah semuanya sampai sejauh ini, ternyata masih ada kesempatan untuk membalikkan keadaan!
Dengan riang, Su Yang mengambil kembali teleponnya. “Wah, sekarang kau tahu juga cara meneleponku?”
“Anak sudah mati baru kau datang menyusui. Mobil sudah menabrak tembok baru kau ingat berbelok. Saham sudah naik baru kau ingat membelinya!”
“Terlambat!”
Su Yang langsung menutup telepon.
Halaman (3/3)