Bab 6: Wei Zhaoxian
Sejak saat itu, Nyonya Wei tahu bahwa Shen Shilang sangatlah penting bagi Wei Zhaoxian.
Nyonya Wei menduga, alasan Wei Zhaoxian enggan mencatatkan nama Shen Shilang ke dalam silsilah keluarganya mungkin karena ia begitu mencintai mendiang ibu anak itu, sehingga tidak rela jika sang anak memanggil wanita lain dengan sebutan ibu.
Dia lebih memilih membiarkan orang luar berspekulasi bahwa Shen Shilang adalah anak haramnya.
Bagaimana mungkin Nyonya Wei bisa menyukai Shen Shilang dengan alasan tersebut?
Oleh karena itu, selama Wei Zhaoxian tidak berada di kediaman, Nyonya Wei tidak pernah mempedulikan nasib Shen Shilang, asalkan ia tidak mati.
Setiap kali Wei Zhaoxian kembali, barulah Nyonya Wei berpura-pura bersikap baik.
Tak disangka, anak itu cukup tahu diri dan tidak pernah mengadu kepada Wei Zhaoxian. Mungkin ia sadar akan asal-usulnya yang memalukan, sehingga merasa malu sendiri.
Namun, Nyonya Wei tidak menceritakan kecurigaan ini kepada anak-anaknya. Biarlah mereka percaya bahwa Shen Shilang hanyalah seorang kerabat jauh yang datang untuk menumpang.
Di mata mereka, Wei Zhaoxian adalah sosok pahlawan yang jujur, berani, dan setia. Nyonya Wei tidak ingin merusak citra suaminya di mata anak-anak mereka.
"Sudahlah, biarkan saja dia," ujar Nyonya Wei. "Anggap saja dia tidak ada. Kalian tidak perlu berurusan dengannya, apalagi mengurusnya."
Melihat Shen Shilang mendekat, Nyonya Wei pun berhenti bicara.
"Nyonya," sapa Shen Shilang seraya memberi hormat.
"Jenderal akan segera tiba. Berdirilah di sini bersama kami untuk menyambutnya," ucap Nyonya Wei dengan nada dingin.
Shen Shilang terdiam dan mundur ke samping.
Nyonya Wei memang tidak bersikap baik padanya. Meski jarang bertemu, setiap kali mereka berinteraksi, Nyonya Wei selalu menjaga jarak dengan formalitas yang kaku.
Namun, Shen Shilang tahu bahwa para pelayan di kediaman sering mengabaikannya. Sarapan yang ia terima hari ini pun bukan kejadian baru. Sebagai pengelola urusan rumah tangga, mustahil Nyonya Wei tidak mengetahui hal ini.
Oleh karena itu, Shen Shilang tidak pernah menonjolkan diri di depan Nyonya Wei. Bagaimanapun, ia tidak mungkin bersembunyi di kediaman keluarga Wei selamanya.
Shen Shilang menatap ke arah ibu kota. Ibu kota adalah tempat yang harus ia tuju.
***
Tiba-tiba, suara derap kuda terdengar dari kejauhan.
"Nyonya, Jenderal telah kembali!" seru Pelayan Zhou yang berlari tergesa-gesa dari gerbang utama untuk melapor.
"Cepat!" Nyonya Wei segera menggandeng tangan Wei Ruyan di sebelah kiri dan Wei Jianming di sebelah kanan, lalu melangkah ke luar pintu tanpa memedulikan Shen Shilang.
Shen Shilang pun mengikuti dengan tenang di belakang mereka.
Wei Zhaoxian menghentikan kudanya di depan gerbang kediaman Wei dengan satu tarikan tali kekang. Ia turun dari kuda, melemparkan tali kekang kepada pelayan, lalu melangkah lebar menaiki anak tangga.
"Jenderal sudah kembali," sambut Nyonya Wei.
Melihat semua orang menunggunya di depan pintu, Wei Zhaoxian berkata, "Aku tidak pergi jauh, tidak perlu menyambutku di depan pintu setiap kali aku pulang."
"Itu karena Ibu sudah sangat merindukan Ayah setelah sebulan tidak bertemu," sahut Wei Ruyan sambil mengerucutkan bibir.
Nyonya Wei tersipu malu. Wei Zhaoxian menggenggam tangan istrinya dan berkata, "Terima kasih telah mengurus rumah tangga selama aku pergi, kau pasti lelah."
"Jenderal yang lebih menderita dan menghadapi bahaya di medan perang," balas Nyonya Wei lembut. Ia kemudian menoleh ke belakang, mencari sosok putra sulungnya. "Bukankah Jianlang ikut bersamamu?"
"Dia tinggal di barak. Jika kami berdua pulang, siapa yang akan menjaga pos?" Wei Zhaoxian menjawab, lalu matanya menyapu sekeliling. "Di mana Shen Shilang?"
Wei Zhaoxian mendongak, melirik melewati bahu Wei Jianming, hingga akhirnya menemukan Shen Shilang yang berdiri di barisan belakang.
Ia melepaskan tangan Nyonya Wei dan berjalan menghampiri Shen Shilang. "Mengapa berdiri begitu jauh di belakang?"
Di belakang Wei Zhaoxian, Wei Jianming menatap Shen Shilang dengan tatapan penuh kebencian. Sang ayah bahkan tidak meliriknya, dan kepada ibunya pun hanya memberikan sapaan basa-basi sebelum langsung mencari Shen Shilang.
Setiap kali seperti ini! Mengapa ayahnya harus bersikap begitu baik kepada kerabat jauh yang miskin itu?
Shen Shilang memberi hormat kepada Wei Zhaoxian. "Saya khawatir Jenderal akan langsung menguji pelajaran saya begitu tiba, jadi saya mencoba bersembunyi agar tidak terlihat."
Shen Shilang menambahkan dengan nada pasrah, "Tak disangka, Jenderal tetap menemukan saya."
Wei Jianming mendengus dalam hati. Baguslah anak itu tahu diri dan tidak mengadu tentang perlakuan ibunya. Sepertinya pelajaran yang ia berikan pada Shen Shilang tidak sia-sia.
Wei Zhaoxian tertawa terbahak-bahak. "Kebetulan sekali. Ikutlah denganku ke ruang kerja. Karena sudah tertangkap, aku harus tetap mengujimu."
Setelah melangkah dua kali, Wei Zhaoxian menoleh ke arah Wei Jianming. "Kau juga ikut."
"Baik..." wajah Wei Jianming seketika murung.
Ia memang ingin diperhatikan oleh ayahnya, tetapi ia tidak ingin diuji pelajaran.
Nyonya Wei mendekat dan berkata, "Jenderal, tidak perlu terburu-buru menguji pelajaran. Anda pasti lelah setelah perjalanan jauh. Lebih baik istirahat dan minum teh dulu. Oh ya, apakah Anda sudah makan?"
"Tidak perlu," jawab Wei Zhaoxian. "Aku tidak lelah maupun lapar. Setelah selesai berbincang dengan mereka, aku akan menemuimu."
Usai berkata demikian, Wei Zhaoxian mengajak Shen Shilang dan Wei Jianming pergi.
"Ibu," Wei Ruyan memeluk lengan Nyonya Wei dan berbisik, "Setiap kali Ayah pulang, matanya hanya tertuju pada Shen Shilang. Itu keterlaluan."
Nyonya Wei menepuk tangan Wei Ruyan. "Sudahlah, ayo kita kembali. Entah bagaimana pelajaran kakak keduamu, jika hasilnya buruk, ia pasti akan dihukum."
"Pasti hasilnya lebih baik daripada Shen Shilang," gumam Wei Ruyan dengan bibir cemberut.
"Jangan pikirkan itu lagi," ujar Nyonya Wei sambil berjalan. "Apakah kau sudah bersiap untuk acara perjamuan bunga setelah pengumuman hasil ujian nanti? Jangan sampai kau mempermalukan diri dengan bersyair, kau kan tidak bisa melakukannya."
"Ibu, apa yang Ibu katakan? Aku adalah wanita terpelajar yang terkenal di Chongan, mana mungkin hal itu menyulitkanku?" Wei Ruyan tampak percaya diri. "Hanya saja, aku masih belum menemukan perhiasan yang cocok untuk gaunku di perjamuan nanti."
Wei Ruyan mengguncang lengan ibunya. "Ibu, bagaimana jika Ibu memberiku sedikit uang? Aku ingin pergi ke toko perhiasan. Sudah lama sekali aku tidak membeli jepit rambut baru."
"Setiap kali keluar aku selalu memakai yang lama, orang-orang pasti menertawakanku," keluh Wei Ruyan.
"Berapa banyak yang kau butuhkan?" tanya Nyonya Wei.
"Seratus tael sudah cukup," bisik Wei Ruyan.
"Apa kau sudah gila? Berapa uang sakumu setiap bulan?" tegur Nyonya Wei. "Kau tahu betul ayahmu membenci pemborosan. Lagipula, uang keluarga selalu digunakan untuk membantu kebutuhan militer, bagaimana mungkin aku membelikanmu jepit rambut semahal itu!"
"Ibu, bukankah Ibu punya uang sendiri?" sahut Wei Ruyan.
Dalam mahar Nyonya Wei, terdapat banyak toko dan lahan pertanian yang menghasilkan pendapatan bulanan cukup besar.
"Lagipula, masih ada jatah bulanan Shen Shilang," lanjut Wei Ruyan. "Kita sudah memberinya makan selama lima belas tahun. Dia sudah dewasa sekarang, apakah dia mau terus bergantung pada keluarga kita?"
Nyonya Wei terdiam sejenak. "Dia juga akan segera mengikuti ujian, mungkin tidak akan tinggal lama di sini."
"Itu dia maksudku," kata Wei Ruyan. "Jika dia gagal dalam ujian, suruh saja dia pergi dan mencari penghidupan sendiri. Untuk apa orang sebesar itu terus-menerus makan dan minum secara cuma-cuma di kediaman kita?"