Bab Tiga Puluh Dua: Seni Ilusi
Gao Keke setuju dengan antusias.
"Kamu ingin makan apa? Aku yang traktir!"
Ia terbiasa menjelajahi kuliner bersama teman-temannya saat senggang, dan tidak ada tempat di Kota Yun yang tidak ia ketahui.
"Aku ikut pilihanmu saja, aku tidak pilih-pilih makanan."
Gao Keke berpikir sejenak, "Ayo kita makan hot pot!"
Ia menyebutkan sebuah alamat yang kebetulan berada di kawasan komersial dekat Teluk Lanshui. Qin Yuan pun setuju.
Sesampainya di tempat parkir, Qin Yuan memeriksa bagian mobil yang tertabrak, syukurlah kerusakannya tidak terlalu parah.
"Wah, ini mobil sport model terbaru, ya? Kalau tidak salah, jumlahnya tidak sampai seratus unit di seluruh dunia!"
Gao Keke, yang sering terpapar informasi dari adiknya, sedikit banyak tahu tentang mobil mewah. Ia diam-diam menebak identitas Qin Yuan.
Qin Yuan tidak menanggapi ucapan Gao Keke, ia hanya menjawab dengan nada setengah bercanda, "Begitukah? Aku tidak terlalu memperhatikannya."
"Keke, sudah berapa lama kamu punya SIM?"
"Empat bulan."
Saat bicara soal menyetir, wajah Gao Keke tampak lesu. Ia menghela napas panjang.
"Aku merasa belakangan ini keberuntunganku sedang buruk sekali. Sejak punya SIM, masalah datang terus-menerus."
Entah itu kecelakaan atau orang yang sengaja mencari gara-gara di jalan. Gao Keke hampir meragukan hidupnya sendiri. Kecelakaan hari ini bahkan membuatnya enggan menyetir lagi. Lebih baik ia naik kereta bawah tanah untuk pergi bekerja setiap hari.
Qin Yuan, yang tadinya hendak menyalakan mesin, terdiam. Ia menyipitkan mata menatap Gao Keke.
"Maksudmu, masalah terus terjadi sejak kamu mulai menyetir?"
Gao Keke mengangguk, menatap Qin Yuan yang tiba-tiba memasang wajah serius dengan bingung.
"Boleh aku memeriksa mobilmu?"
"Ah? Tentu saja."
Gao Keke keluar dari kursi penumpang dengan wajah bingung dan membuka pintu mobilnya sendiri. Keluarganya bukan keluarga yang sangat kaya, tapi setidaknya berkecukupan. Sebelum SIM Gao Keke terbit, keluarganya sudah membelikannya sebuah Mercedes-Benz.
"Apakah ini mobil baru?"
Saat Qin Yuan duduk di kursi pengemudi, ia diam-diam mengalirkan energi spiritualnya. Hampir seketika, ia merasakan hawa dingin yang menusuk berasal dari bawah sasis mobil, terus mengalir ke arah kursi pengemudi.
"Iya, betul."
Seharusnya tidak mungkin. Bagaimana bisa mobil baru memiliki hawa kematian yang terkait dengan orang mati? Jangan-jangan Gao Keke pernah menabrak orang hingga tewas?
Melihat penampilannya, sepertinya tidak mungkin. Kalau iya, dia pasti sudah ketakutan setengah mati dan tidak berani menyetir lagi.
Qin Yuan mengerutkan kening, "Pernah diperbaiki di bengkel?"
Gao Keke tampak pasrah, "Sudah lima kali diperbaiki. Aku hampir menjadi pelanggan VIP di bengkel resmi."
Qin Yuan keluar dari mobil, meminta Gao Keke menyalakan senter ponsel untuk meneranginya, lalu ia membungkuk untuk memeriksa bagian bawah mobil.
Benar saja, itu adalah hawa dendam! Hawa semacam ini berbeda dari yang biasa, biasanya terbentuk oleh orang yang mati penasaran atau mati tidak wajar tanpa sempat membalaskan dendamnya.
Gao Keke bisa selamat tanpa mengalami kecelakaan fatal selama ini sudah merupakan keberuntungan besar. Leluhur keluarganya mungkin sudah bersujud memohon perlindungan di alam sana sampai lelah.
"Suku cadang pada setir kemudimu ini bukan barang baru, ini barang bekas yang dibongkar dari mobil yang pernah digunakan untuk menabrak orang hingga tewas," ujar Qin Yuan sambil bertepuk tangan membersihkan debu dan berdiri.
"Cari tahu siapa yang menggantinya untukmu. Kecelakaan yang sering kamu alami belakangan ini disebabkan oleh benda itu."
"Orang yang mati tidak wajar menyimpan dendam. Jika kamu terus-menerus terpapar hawa tersebut, energi dan semangatmu akan terserap, yang mengakibatkan kesialan terus menghantuimu."
Gao Keke tertegun. Kata-kata Qin Yuan selanjutnya terdengar asing di telinganya.
"Ti-tidak mungkin! Aku membayar harga penuh untuk suku cadang asli, ternyata mereka memberiku barang bekas!" seru Gao Keke dengan marah.
Qin Yuan hanya bisa terdiam. Gadis ini terlihat cerdas, tapi kenapa tidak bisa menangkap poin utamanya?
"Besok segera cari orang untuk menderek mobil ini dan mengganti suku cadangnya. Cari tempat dengan energi positif yang kuat untuk memarkirnya selama tiga bulan sebelum bisa digunakan kembali. Sebelum itu, jangan ada yang menyentuhnya, bisa membahayakan nyawa," pesan Qin Yuan dengan sungguh-sungguh.
Gao Keke mengangguk, menatap Qin Yuan dengan takjub.
"Kamu masih sangat muda, tapi ternyata bisa membaca Feng Shui."
Gao Keke, yang memiliki kemampuan adaptasi baik, langsung bertanya dengan semangat, "Kalau begitu, apakah kamu bisa meramal kapan aku akan menjadi kaya?"
"Kamu ditakdirkan hidup berkecukupan seumur hidupmu," jawab Qin Yuan sembari mengingat teknik Feng Shui Yin-Yang yang diberikan oleh Guru Agung Yuanlu. Ia menatap wajah Gao Keke dan menambahkan, "Hanya saja, kemampuanmu dalam menilai orang kurang baik, kamu selalu bertemu dengan pria yang tidak tepat."
Senyum Gao Keke yang baru saja merekah langsung sirna.
"Kamu menyebalkan sekali! Tidak bisakah bicara yang manis-manis?" Gao Keke mencebik, "Untung kamu tidak membuka jasa ramal, kalau tidak, kamu pasti sudah dipukuli orang."
Qin Yuan menyipitkan mata, "Orang yang tidak bisa menerima kebenaran, jika tertimpa musibah, itu memang sudah menjadi takdir hidupnya."
Gao Keke adalah wanita yang terlihat cerdik, namun sebenarnya sangat polos, dengan kepribadian yang blak-blakan. Setelah makan hot pot bersama, ia langsung meminta kontak Qin Yuan dan menambahkannya di aplikasi pesan singkat.
"Di mana kamu tinggal? Aku antar pulang."
Gao Keke teringat peringatan sahabatnya berulang kali, ia pun ragu-ragu.
Qin Yuan langsung mengeluarkan ponselnya, "Kalau tidak mau kuantar, aku pesankan taksi untukmu."
"Tidak usah, beberapa hari lalu ada berita pengemudi yang membunuh penumpangnya di tengah malam, aku tidak berani naik taksi daring lagi."
Qin Yuan berkelakar, "Lalu, kamu tidak takut kalau aku ini pembunuhnya?"
"Kamu tidak terlihat seperti itu. Orang yang sanggup melakukan hal keji seperti itu pasti tipe yang biasanya tidak dilirik oleh wanita mana pun."
Gao Keke menyebutkan nama perumahannya, yang jaraknya tidak jauh dari Teluk Lanshui.
"Terima kasih, Tuan Qin. Hari sudah larut, hati-hati di jalan!"
Gao Keke turun dari mobil dan melambaikan tangan ke arah Qin Yuan.
Qin Yuan mengantar Gao Keke masuk ke kompleks perumahannya, lalu berbalik arah dan kembali menuju Teluk Lanshui. Setelah memarkir mobil di area kosong, Qin Yuan membuka indra spiritualnya.
Seketika, ia menemukan sesosok bayangan mencurigakan di sudut tersembunyi sekitar 40 meter darinya yang sedang menggali lubang dengan sekuat tenaga. Di samping lubang besar itu, terdapat benda yang dibungkus karung plastik. Qin Yuan langsung tahu bahwa itu adalah mayat seorang pemuda.
"Malam gelap dan berangin, saat yang tepat untuk membunuh dan membakar," pikir Qin Yuan.
Orang ini benar-benar tahu cara memilih tempat yang strategis. Qin Yuan mengertakkan gigi karena kesal. Jika ia melapor ke polisi sekarang, polisi pasti akan menyegel tempat ini untuk penyelidikan. Ia tidak akan bisa datang ke sini dalam waktu dekat. Belum lagi harus menghadapi interogasi polisi tentang apa yang ia lakukan di tempat ini tengah malam. Membayangkan polisi wanita yang cerewet di kantor polisi saja sudah membuatnya pening.
Qin Yuan mengumpulkan energi spiritual di kakinya, membuatnya bisa berjalan dengan melayang tanpa meninggalkan jejak di tanah. Ia telah memastikan berkali-kali bahwa tidak ada kamera pengawas di area ini.
Qin Yuan berada di bagian tengah Teluk Lanshui, di sini hanya ada deretan vila yang luas. Pelabuhan berada di timur, dan kawasan komersial di barat.
Qin Yuan "berjalan" mendekati pria yang sedang membuang mayat itu, lalu tiba-tiba bersuara.
"Mengapa kamu menerobos wilayahku?"
Pria yang sedang sibuk menggali itu gemetar hebat, sekop di tangannya hampir terlepas. Ia menoleh dengan gemetar ke belakang, dan seketika melihat sosok "Sadako" berbaju putih dengan rambut menjuntai ke tanah yang melayang di udara.
Pria itu berteriak ketakutan, menjatuhkan sekopnya, memanjat keluar dari lubang dengan tangan dan kaki, lalu melarikan diri tanpa mempedulikan mayat di sampingnya.
Qin Yuan terdiam. Pria itu sudah lari bahkan sebelum ia memulai aksinya, benar-benar tidak berguna. Dengan keberanian sekecil itu, beraninya dia membunuh orang?
Sambil berpikir, Qin Yuan mengangkat tangan dan mengirimkan hawa pembunuh ke arah pria yang melarikan diri itu. Tadi, Qin Yuan hanya menggunakan ilusi untuk menipu pria itu, sehingga ia melihat ketakutan terbesar yang ada di dalam hatinya sendiri.